Tips, Gimana Mau Sayang Kalau Nggak Kenal?

Dhika Putra Pramudani, Juara 3 Lomba Cerdas Cermat (LCC) Online Global Youth Action

Program Lomba Cerdas Cermat (LCC) online oleh Global Youth Action yang diselenggarakan pada 20 Desember 2020 lalu diselenggarakan untuk mendukung point ke empat Sustainable Development Goals yaitu quality education. Menempati posisi juara ketiga, ada Dhika Putra Pramudani. Mahasiswa semester lima yang berasal dari Kabupaten Semarang ini mengaku sangat bersyukur menjadi juara tiga, “semoga dengan kemenangan ini tidak menghentikan langkah saya untuk memperdalam wawasan terlebih mengenai wawasan di Indonesia.”

Ia mengaku senang dan tidak menyangka sebelumnya. Dhika sudah berpikir bisa lolos penyisihan, namun tidak terpikirkan bisa masuk final.

Dhika menceritakan saat SMA pernah ikut perlombaan seputar Indonesia, dan ketika seleksi kuliah ada salah satu ujian tentang Indonesia, itu menjadi salah satu faktor yang mempermudah. “Cuman tetap mencoba cari materi di google, baca-baca banyak hal baru juga, dan ternyata yang dilombakan out of the box, benar-benar mind blowing,” tambahnya.

Mahasiswa DIII Kepabeanan dan Cukai di PKN STAN ini mengaku tidak memiliki kendala dalam proses perlombaan kemarin. “Alhamdulillah sinyal wifi saya mendukung, jadi tidak ada kendala sama sekali,” ungkapnya.

Ada tips juga dari Dhika agar kita mau lebih mengenal Indonesia, “gimana mau sayang kalau nggak kenal kan? Dan gimana kenal kalo nggak mau deketin dan cari tahu.”

“Pertama harus sadar kalau budaya itu harus disayang, terlebih lagi arus globalisasi makin deras, banyak hal buruk yang ditakutkan bisa terjadi. Bisa saja budaya yang kaya jadi korbannya. Jadi kita harus menanamkan di diri kita masing-masing, ini adalah tugas bersama.

Kedua, setelah sadar, barulah aktif mencari tau diberbagai sumber. Ikuti di berbagai sosial media yang membagikan info tentang budaya. Pasti setelah itu, jadi kepo dan ketagihan buat baca terus-terusan tentang budaya.

Ketiga, pandemi gini sulit untuk interaksi di luar rumah, jadi ikut kegiatan online yang ada unsur budayanya, mungkin kalau nggak di masa pandemi bisa ikut dalam kegiatan festival kedaerahan.

Keempat, ya kali udah tau dan udah sayang nggak dijaga. Jadi tumbuhkan rasa memiliki budaya itu, yang seolah kalau direbut negara lain atau hilang tanpa kabar kita jadi posesif.”

Dhika juga menambahkan, “lomba ini membuka mata dan pandangannya bahwa kekayaan kebudayaan di Indonesia perlu adanya aksi nyata dari masyarakat untuk melestarikannya. Juga tak lupa aksi para pemuda untuk senantiasa berbangga dengan turut serta menjadi penggerak bangsanya karena masa depan bangsa ada di tangan pemudanya. Ia berharap dikemudian hari GYA dapat menyelenggarakan acara yang tak kalah luar biasa dari sebelumnya.”

Leave a Reply