It’s Your Turn

“Melalui program ini, Saya belajar mengenal budaya, sejarah, gaya hidup, perkembangan teknologi, tata kota, dan masih banyak lagi yang lainnya.” | dokpri

Malam itu, di sebuah caf di daerah Soekarno Hatta Malang, seperti biasa aku dan sahabatku menghabiskan malam bersama dengan setumpuk pekerjaan yang sudah melambai-lambai untuk diselesaikan, bukan untuk ngobrol dan ngopi-ngopi cantik tentunya. Ya, seringkali memang begitu, waktu-waktu yang kita habiskan di caf bukan untuk nongki-nongki cantik, bersenda gurau atau semacamnya, tetapi lebih banyak kita habiskan di depan layar laptop atau gadget dengan seabrek pekerjaan yang tak pernah ada ujungnya.

Sesekali, kita mulai scroll di hp kita masing-masing, entah itu hanya sekedar mengecek notif chat atau hanya membuka medsos meski iseng saja. Sambil senyam-senyum sendiri, aku mulai menscroll salah satu website yang tercantum namaku di sana, sambal mulai melihat-lihat jajaran nama-nama lain yang ada di sana. Seketika aku memulai pembicaraan dengan sahabatku itu sambil menepuk bahunya, “Tau gak sih?” kata kunci yang sering kita gunakan tatkala memulai obrolan atau sekadar berbagi info seputar apapun, kadang gosip juga sih. Hehe. “Aku lolos 10 besar program Comparative Study ke tiga negara coba!” dengan muka heboh penuh tanda tanya. 

“Bentar-bentar, kok aku bisa lolos ya, padahal aku gak yakin blas lho iso lolos” tambahku lagi dengan masih menunjukkan muka bingung dan seneng tentunya. Sambil memperlihatkan website yang tadi ku lihat di hpku pada sahabatku. “Wiiik iyoik, mantaaap mantaaap…” sahutnya sambil mengacungkan jempolnya. “Emange iki program opo to? Tentang opo?” tambahnya lagi penasaran. 

“Jadi…program ini itu yang ngadain namanya Global Youth Action, awale aku iseng aja ikutan waktu dapet info dari salah satu temen di grup WA, pertama daftar, habis itu bikin essay gitu dari pertanyaan-pertanyaan yang dibuat panitia, habis itu dikirim, uwes. Nunggu pengumuman, diambil 10 besar, wawancara di Jakarta, diambil 3 besar untuk delegasi Fully Funded Comparative Study ke tiga negara” jawabku padanya. “Wah, katut-katut dirimu, aku yakin” sahut sahabatku dengan yakinnya. “Ah mosok se, kok aku ragu yo, ah embuh wes…” jawabku dengan masih agak kebingungan.

Ya, bingung. Kata yang tepat untuk menggambarkan rasanya saat itu. Saya lulus kuliah pascasarjana 3 tahun yang lalu, saya sudah lupa rasanya memenangkan suatu kompetisi. Sudah lama sekali rasanya saya tak pernah merasakan rasa ini. Dulu, pada saat masih berstatus mahasiswa, rasa ini mungkin beberapa kali sudah pernah kurasakan.

Ya, setelah sekian lama tidak lagi menyandang status sebagai mahasiswa, dari yang dulunya saya adalah seorang aktivis yang sangat biasa dengan kompetisi, event dan berbagai kegiatan lain, setelah lulus sudah lama rasanya tidak berkecimpung di dunia itu, meski kini tetap berkecimpung di dunia kampus. Namun tetap, rasanya beda. Rasanya masih sama seperti dulu, campur aduk, ada senang, ada khawatir, ada cemas, ada exited dan ada ragu, bedanya cuman kini aku lebih santai aja sih, rasanya seperti apapun yang terjadi, it’s will be okay.

Kesibukan kantor dan mengajar yang seabrek memang tak bisa dihindari, namun bagi saya kesempatan ini harus tetap dilaksanakan, harus jalan terus. Interview seleksi tahap II di Jakarta tetap harus saya datangi, kebetulan saat itu berbarengan dengan UAS di kampus yang tentu saja saya kebagian jadwal jaga. Pada saat interview, dari 10 peserta yang hadir, hanya 4 orang saja yang hadir, namun ada ketentuan khusus untuk peserta yang dari luar jawa, bisa interview online. 

Dari 10 diambil 3, insya Allah ndak terlalu sulit pikirku. Secara pengalaman, memang aku terlihat paling menonjol di antara peserta-peserta yang lainnya, bukan berarti sombong sih, tapi memang secara usia aku yang paling mateng dan sudah melewati banyak hal. Hehehe… memang interview bukan hal yang sulit bagi saya yang telah melewati puluhan interview sebelumnya, tapi tetap, segala sesuatu harus dipersiapkan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. 

Beberapa hal yang harus dipersiapkan dalam interview antara lain pengetahuan umum, pengetahuan tentang ASEAN dan tentang manajemen diri. Pertanyaan yang diajukan oleh interviewer di pilih secara acak dari ketiga topik di atas sesuai undian yang kita dapat di depan interviewer. Pertanyaan yang saya dapat terkait ASEAN dan manajemen diri. Pertanyaan tentang ASEAN seputar bagaimana ide-ide, pandangan dan kontribusi kita terhadap peran kita sebagai pemuda dalam mengembangkan ASEAN tentunya, dalam menjawab pertanyaan ini satu kuncinya “perbanyak membaca”. 

Tenang, membaca gak ada ruginya kok. Sedangkan, pertanyaan terkait manajemen diri, lebih banyak terkait bagaimana pola pikir kita, manajemen emosi, dan lain-lain. Untuk menjawab pertanyaan ini kuncinya adalah “pengalaman hidup”. Dengan pengalaman yang banyak, akan lebih memudahkan menjawab pertanyaan. Seperti dugaan awal sahabat saya malam itu, alhamdulillahirobbil’alamin… I’m one of the Top 3 Fully Funded Comparative Study 2020.

Pesan saya untuk teman-teman yang akan mengikuti program Fully Funded Comparative Study adalah, jadilah diri sendiri, jujur terhadap siapa saja termasuk diri Anda, lakukan segalanya dengan sungguh-sungguh, apapun kesibukan dan kegiatan Anda, kemudian lakukan bertahap, jangan terburu-buru, dalam menuliskan essay, belajar untuk interview, lakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang dan dilakukan berulang-ulang, satu lagi, jangan pernah lelah untuk terus belajar dan jangan pernah berhenti belajar. 

Belajar bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Persiapkan segala sesuatunya dengan matang dan sungguh-sungguh. Terakhir, pelengkap dari segalanya adalah berdoa. Berdoalah sebanyak-banyaknya. Apapun hasil yang kita peroleh, harus kita syukuri, jika berhasil sudah selayaknya kita bersyukur, jika tidak berhasil, kita akan mendapatkan pengalaman hidup yang berharga.

Program Comparative Study ini merupakan yang sangat bagus dan inspiratif sekali, terutama untuk para pemuda dan para akademisi. Sebagaimana niat awal saya mengikuti program ini adalah untuk “BELAJAR”. Belajar apa saja yang bisa kita pelajari. Saya belajar banyak hal melalui program ini, belajar mengenal budaya, sejarah, gaya hidup, perkembangan teknologi, tata kota, berkomunikasi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Program ini dilaksanakan di 3 negara yaitu Malaysia, Singapura dan Thailand. 

Saat di Malaysia kita mengikuti International Seminar dengan topik pengembangan Start Up, bagaimana Startup itu, mengembangkannya, apa saja yang harus kita punya, dan lain-lain. Satu hal yang penting yang saya peroleh dari Interntional Seminar tentang Startup itu adalah tentang inovasi. Ya, inovasi. Bergerak dalam bidang apapun kita nantinya, inovasi merupakan senjata agar kita tetap maju dan tidak tertinggal. 

Di Singapura, kita bisa belajar banyak hal mengenai negara yang sangat tertata dan teratur ini, dengan berbagai inovasi dan kecanggihannya serta belajar mengenai bagaimana pendidikan di salah satu kampus elit dunia yaitu Nanyang Technological University, mulai dari suasana kampusnya, perilaku pelajarnya, sistem pendidikannya dan bagaimana para mahasiswa di sana belajar. 


Belajar bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan di mana saja. Persiapkan segala sesuatunya dengan matang dan sungguh-sungguh. Terakhir, pelengkap dari segalanya adalah berdoa. Berdoalah sebanyak-banyaknya. Apapun hasil yang kita peroleh, harus kita syukuri, jika berhasil sudah selayaknya kita bersyukur, jika tidak berhasil, kita akan mendapatkan pengalaman hidup yang berharga.

Program Comparative Study ini merupakan yang sangat bagus dan inspiratif sekali, terutama untuk para pemuda dan para akademisi. Sebagaimana niat awal saya mengikuti program ini adalah untuk “BELAJAR”. Belajar apa saja yang bisa kita pelajari. Saya belajar banyak hal melalui program ini, belajar mengenal budaya, sejarah, gaya hidup, perkembangan teknologi, tata kota, berkomunikasi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Program ini dilaksanakan di 3 negara yaitu Malaysia, Singapura dan Thailand. 

Saat di Malaysia kita mengikuti International Seminar dengan topik pengembangan Start Up, bagaimana Startup itu, mengembangkannya, apa saja yang harus kita punya, dan lain-lain. Satu hal yang penting yang saya peroleh dari Interntional Seminar tentang Startup itu adalah tentang inovasi. Ya, inovasi. Bergerak dalam bidang apapun kita nantinya, inovasi merupakan senjata agar kita tetap maju dan tidak tertinggal. 

Di Singapura, kita bisa belajar banyak hal mengenai negara yang sangat tertata dan teratur ini, dengan berbagai inovasi dan kecanggihannya serta belajar mengenai bagaimana pendidikan di salah satu kampus elit dunia yaitu Nanyang Technological University, mulai dari suasana kampusnya, perilaku pelajarnya, sistem pendidikannya dan bagaimana para mahasiswa di sana belajar. 

Dari situ, kita bisa memperoleh banyak hal yang bisa kita adopsi untuk meningkatkan pendidikan di negara kita yang mungkin belum sebagus di sana. Di Thailand kita banyak sekali belajar mengenai budaya dan keragaman yang terkolaborasi dengan sangat indah sekali. Perjalanan ke berbagai tempat ibadah berbagai agama mengajarkan kita tentang keragaman, tentang menghormati sesama berdasarkan kemanusian, tidak terkotak-kotakkan oleh agama saja. Dalam program Comparative Study ini kita mendatangi berbagai tempat-tempat bersejarah dan tempat-tempat ikonik di 3 negara tersebut, hal tersebut akan menambah wawasan dan cakrawala berpikir kita terhadap banyak hal. Selamat belajar.

Terakhir, saya menyampaikan terimakasih kepada seluruh tim Comparative Study yang telah mengadakan dan memfasilitasi acara yang sangat penuh makna ini, semoga bisa menjadi ladang ibadah dan juga amal yang barokah. Tak lupa pula, untuk teman-teman peserta Comparative Study yang sudah melakukan perjalanan indah bersama dan belajar bersama, sukses selalu untuk kita semua. Untuk teman-teman lain di luar sana, dengan mengikuti program Comparative Study ini kita akan mendapatkan banyak hal baik untuk belajar atau untuk refreshing juga. Program ini sangat valuable untuk diikuti oleh siapa saja yang ingin tumbuh dan berkembang. Sukses selalu untuk Comparative Study ke depannya dan semoga selalu menjadi lebih baik. Amin.

Penulis: Lulu’atul Hamidatu Ulya, Pemenang Fully Funded Comparative Study 2020

1 thought on “It’s Your Turn”

  1. Assalamualaikum..
    Salam kenal kak Lulu, sy dr Tasikmalaya trtarik dengan tulisan kaka, boleh kasih tips jitu supaya bisa seperti kaka hehe..

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top
Open chat
1
Ada pertanyaan?
Haloo 👋
Ada yang bisa kami bantu?